 |
|
 |
Sepekan sebelum Idul Qurban 1430-H yang jatuh pada Tanggal 27 November 2009 seorang teman sesama pemburu berita menelpon, saya yang sedang leyeh-leyehan menikmati istirahat siang sambil keloni Zelannaya terganggu dengan deringan telpon rumah yang berulangkali, tentu saja karena sipenelpon itu tidak bisa menghubungi sellulerku yang kumatikan setiap saya sudah di rumah, hanya teman tertentu saja yang mengetahui kebiasaan burukku itu.
“pak Andi, ini penting, ada gadis dari Swiss bertamu di Kantor” ujar Ari teman wartawan Radar Bali Jawa Pos Group yang terus nyerocos seolah memojokkanku untuk menerima bule blasteran yang bertandang di Harian Jawa Pos Bali. Dengan segala argumentasi disertai solidaritas sesama awak media yang kebetulan saya di Tabloid Suara Udayana, akhirnya Ari menggiringku pada waktu yang harus saya sepakati untuk bertemu dengan tamunya, “Oke Ari, temui saya di rumah jam 8 malam, setelah sholat Isya” ujarku
Namanya Nicole, terlahir dari rahim seorang Ibu berdarah Switzerland dan menurut penuturannya ayah kandungnya seorang Bugis perantau yang dulu tinggal di Jl. Letda Made Putra Banjar Kaju Mas Klod Denpasar. Ari tidak bisa datang, digantikan sama Tata yang juga salah seorang wartawati muda yang fasih Bahasa Inggeris menemani Nicole ke rumah.
Turun dari taxi, dengan sopan menyapaku, “ Hello, I’m Nicole, good evening” ucapnya sambil menjabat tanganku dengan erat, saya yang sedang berdiri dipagar sama Ummi menyambutnya dengan senyum, genggaman tangannya menyiratkan seseorang yang sedang menunggu pengharapan untuk bertemu seseorang yang dikasihi dan dirindukannya, sayapun membalasnya dengan menepuk punggung tangannya, “I’m Andi, Secretary of Buginese in Bali, welcome to my home, this my wife, Ummi, and over there my daughter ”jawabku mengakrabkan diri sambil mengenalkan istri dan menunjuk ke tiga putriku yang ada di ruang Tv.
Mengenakan gaun malam bermotif kembang yang warna dasarnya putih, nampak kontras dengan kulitnya yang sawo kecoklatan, rambutnya yang pirang dengan wajah yang oval menunjukkan kalau gadis ini adalah seorang blasteran Asia Eropa, tidak dipungkiri secara fisik paduan dua etnis yang berbeda.
Tahun tujuh puluh seorang Gadis periang dari Swiss yang sedang plesir di Bali didekati dengan seorang pemuda lajang dari tanah Bugis yang bernama Ahmad Ramadhan, mengaku sebagai tenaga medis di Bali, dengan bumbu kasih yang bertabur gombal ala perahu Pinisi yang dimabuk laut, berkelit dari ganasnya ombak, dengan silat lida si lajang Bugis itu akhirnya mampu meneduhkan gejolak cinta sang pujaan hati. Keduanya jatuh cinta, pelukan asmara dua insan yang berbeda jenis mengukuhkan tali cintanya untuk seiya dan sekata.
Manisnya cinta direngguk dan terbuai oleh api asmara hingga waktu yang harus memisahkannya, visa kunjungan sang gadis berakhir yang harus dituai dengan meninggalkan Indonesia, sang lajang merenda waktu seolah tak percaya kalau harus berpisah dengan gadisnya, namun keduanya tetap berpegang pada janji untuk tetap setia dan selalu berkirim kabar.
Jarak dan waktu, antara Swistzerland dan Indonesia ditahun tujupuluhan begitu jauh, komunikasi sangat sulit, tidak seperti sekarang dengan mudahnya dapat bertatap muka dengan internet dan media elektronik lainnya sehingga semakin menjauhkan mereka.
Dalam perjalanan waktu, ukiran cinta kasih mereka terjelma dengan lahirnya seorang bayi mungil yang diberi nama Nicole, lahir dengan sehat dan selamat di Swiss, yang kemudian pada suatu kesempatan ketika Nicole berusia 2 tahun sang Ayah menemuinya dalam perjalanan Indonesia – Jerman – Swiss. Ayah Bugis itu menunjukkan tanggungjawabnya hingga sekian ribu mill ditempuhnya untuk atas nama cinta, atas nama darah daging yang ingin dia tunjukkan pada dunia dan pada kita semua.
Nicole sibalita mungilnya dipangku seolah tak ingin dilepasnya, kerinduan yang mendalam ditumpahkannya dalam pelukannya, detak jantungnya saling berirama dengan detak jantung anaknya, bermain tanpa lelah, sesekali diletakkannya lalu berbincang dengan Ibunya, entah apa yang dibicarakan hingga semuanya menjadi sia-sia dan sirna harapan sang Bugis. Keduanya nampak terpukul, si Bugis dan si gadis Swiss itu tidak dapat menemukan kata sepakat sehingga saling berjalan dengan pendirian masing-masing.
Dengan tatapan kosong, sang ayah menengok pada putrid semata wayangnya lalu didekati dan dipasangkan kalung yang beruntai symbol libra sebagai pemberian dari ayahnya.
Kini Nicole, 30 tahun, mencari ayahnya di Bali, kamipun dari komunitas Bugis ikut membantu, bahkan Klian Banjar (Kepala Dusun) di alamat yang diberikan ikut dilibatkan, namun pencarian dengan nama dan cirri-ciri ayahnya itu belum memberikan hasil, saat tulisan dibuat, sms nada sedih dari Nicole diungkapnya ….good morning Andi, I havnt find out anything eather. Been to Kaju Mas Klod but nothing…, thanks 4 help, Nicole.
Hampir dua jam Nicole di rumah saya mengungkap kegundahan hatinya ingin bertemu dengan ayahnya, dia tidak ingin mencampuri keluarga ayahnya sekarang, hanya ingin bertemu dan mengungkap kerinduannya.
Adakah diantara teman-teman dan pembaca yang mengetahui Bapak Ahmad Ramadhan? Pernah tinggal di Bali pada tahun 1970. KAlau ada yang mengetahui, hubungi sekretariat KKSS Bali, Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan Provinsi Bali melalu e-mail info@kkssbali.com, andisaransi@kkssbali.com, andisaransibali@yahoo.co.id.
Andi Udin Saransi
Sekretaris Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Provinsi Bali |